Profil

picture1

Al-qur’an adalah kalamullah wa kitabullah yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup ummat manusia yang ingin menggapai kebagiaan hidup di dunia dan akhirat. Oleh karenanya, mempelajari dan mengajarkan Al-qur’an adalah menjadi kewajiban setiap insan yang beriman, Rasulullah SAW bersabda :

   “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-qur’an

Oleh karenanya, setiap kita harus peduli kepada dakwah Al-qur’an. Dengan kita mengajarkannya, memperjuangkannya dan mengamalkannya dalam kehidupan kita agar kita menjadi orang-orang terbaik disisi Allah.

Namun, fenomena kehidupan sekarang justru sangat berbanding terbalik dengan apa yang sudah dituntunkan dalam Al-Quran. Rasanya Al-Quran hanya sebagai simbol keagamaan yang menjadi angin lalu. Sesuatu yang ada namun tidak banyak orang menganggapnya ada. Seperti kembali ke zaman jahiliah dimana Al-Quran hanya dianggap sekedar buku cerita belaka. Orang-orang lebih berpedoman kepada logika manusia dan meninggalkan Al-Quran. Jika ada yang mengambil pedoman kepada Al-Quran, yang lain akan menganggapnya sebagai orang yang terkesan kolot dan tertinggal zaman. Mereka seakan lupa bahwa Al-Quran itu adalah perkataan langsung dari satu-satunya Tuhan mereka, Allah Subhana wa ta’ala. Al-Quran yang harusnya didekati dan menjadi jiwa dari setiap muslim, justru dijauhi oleh kebanyakan kaum muslim itu sendiri.

Akibatnya, kita dapat melihat generasi pemuda sekarang yang sangat terlena dengan hingar bingar dunia. Food, fun,fim dan fashion seperti sudah mendarah daging dan menjadi pedoman pengganti Al-Quran. Sedikit demi sedikit para pemuda semakin menjauhi Al-Quran. Narkoba, seks bebas, perkelahian antar pelajar, transgender, LGBT dan banyak kasus-kasus lainnya sudah sangat akrab kita dengar dan seakan itu adalah suatu hal yang wajar. Namun, kita harus ingat bahwa itu adalah bentuk kemaksiatan. Sudah terlalu banyak Al-Quran menceritakan kaum-kaum terdahulu yang dibinasakan Allah karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Seharusnya hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita, bukan justru untuk diulang kembali. Apakah manusia tidak ingat bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan sementara?

Rasulullah SAW menyampaikan, “Demi jiwaku yang ada dalam genggamanNya, tidaklah perumpamaan dunia kecuali seperti seorang pengembara yang lewat pada suatu hari yang panas. Lantas, dia berteduh di bawah pohon untuk beberapa saat dari terik siang hari. Kemudian, panas itu hilang dan dia pun meninggalkannya.” (HR Ahmad)

Jika kita diibaratkan sebagai pengembara, apakah sudah cukup bekal kita untuk mencapai akhirat? Apakah kita yakin arah yang kita tuju itu surga atau neraka? Anggap saja Al-Quran adalah kompas kita, lalu jika kita meninggalkannya, apakah kita akan sampai ke tujuan dengan selamat?

Berangkat dari kehidupan inilah, maka Rumah Quran Daarut Tarbiyah menggulirkan sebuah program pengkaderan da’i dan da’iyah yang menghafal Al-qur’an dalam waktu 18 bulan – 2 tahun dari kalangan mahasiswa dan umum. Rumah Quran Daarut Tarbiyah berpusat di Depok dan telah memiliki beberapa rumah quran cabang. Salah satu cabangnya adalah Rumah Quran Pasar Minggu. Rumah Quran Pasar Minggu sendiri masih menyewa rumah di daerah Palapa. Sebelumnya RQ Pasar Minggu pernah menempati sebuah rumah sewa di daerah Kemuning, Pejaten Timur. Saat ini, RQ Pasar Minggu telah memiliki 15 santriwati dan 2 musyrifah yang tinggal di rumah sewa tersebut.

Tidak hanya program tahfidz yang ditawarkan oleh RQ Pasar Minggu, namun sebelum santriwati menjalani program tahfidz, santriwati wajib mengikuti tahsin terlebih dahulu untuk memperbaiki bacaan Al-Qurannya dengan benar. Dengan tagline “Mencetak Generasi Penghafal Al-Quran” Rumah Quran Pasar Minggu bertekad untuk menjadi pemantik kebermanfaatan bagi masyarakat.

Advertisements