Menghafal Al-Quran, haruskah kita?

Sampai saat ini, banyak orang berpikir menghafal Al-Quran itu bukanlah sebuah keharusan, termasuk  penulis juga berpikir sepeti itu dahulu kala. Kenyataannya memang tidak ada dalil yang mewajibkan umat islam untuk menghafal Al-Quran. Namun, pandangan penulis segera berubah ketika penulis mendapatkan kesempatan yang istimewa untuk mengenal Rumah Quran ini.

Penulis akan sedikit bercerita tentang pengalaman penulis ketika pertama kali masuk ke Rumah Quran. Ketika itu, penulis merasa sangat-tidak-begitu-siap-sekali untuk menghafal Al-Quran setelah beberapa minggu menjadi anggota RQ. Muraja’ah kacau, menghafalpun tidak mudah. Bayangan beribu-ribu ayat yang nanti penulis hafal sudah menjadi momok tersendiri. Apalagi penulis pernah mendengar akan adanya adzab bagi penghafal Al-Quran yang melupakan hafalannya dan berperilaku maksiat. Penulis sendiri sangat-tidak-merasa-pantas-sekali untuk menghafal Al-Quran. Mungkin ini adalah alasan yang biasa dikemukakan orang ketika dihadapkan dengan menghafal Al-Quran.

Suatu hari penulis bercerita tentang kegalauannya yang amat sangat ini ke musyrifah  RQ (pembimbing). Di dalam bilik kecil kamar musyrifah ini, penulis mendapatkan secercah lampu neon menerangi hatinya. “Kalau kata ustadz, sebenarnya bukan berapa banyak hafalan yang kita dapat, tapi seberapa banyak waktu yang kita habiskan bersama Al-Quran, semakin susah menghafal kan berarti semakin banyak bersama Al-Quran, kalau menghafalnya lancar, dirajinin lagi, sedikit-sedikit yang penting konsisten, asalkan nggak sengaja melupakan Al-Quran. Berapapun hafalan yang didapat hari itu, harus selalu disyukuri, makin disyukuri, inshaAllah Allah akan menambah nikmatnya menghafal. Mensyukurinya itu dengan muraja’ah yang konsisten pula. Orang menghafal Al-Quran itu, karena dia ingin dekat dengan Al-Quran, ingin dekat dengan Allah, agar nanti ketika di akhirat, Allah memberi syafaat kepadanya karena ia selalu bersama Al-Quran.”

Bacalah Al-Quran karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya. (HR. Muslim)

Dari kata-kata itu, penulis menyadari,  ketika penulis memulai proses menghafal ini saja, penulis masih banyak melakukan kelalaian dan maksiat, apalagi jika penulis tidak menghafal Al-Quran, naudzubillahi min dzaalik bahkan sampai jauh dari Al-Quran. Bagaimana Al-Quran akan menolong kita ketika kita malah dengan sengaja menjauhi Al-Quran padahal kita tahu dengan persis keutamaan dari menjadi ahlu Quran. Dan menghafal Al-Quran adalah salah satu jalan untuk menjadi ahlu Quran tersebut.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang tidak memiliki hafalan Al-Quran sedikit pun, diibaratkan seperti rumah yang roboh.” (HR. Tirmidzi).

Begitu juga diriwayatkan oleh Darimi dengan sanadnya, dari Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda :“Bacalah Al-Quran karena Allah benar-benar tidak akan mengadzab hati orang yang menghafal Al-Quran dan Al-Quran benar-benar merupakan jamuan Allah, maka barang siapa yang mendatanginya ia akan aman, bergembiralah siapa saja yang sangat mencintai Al-Quran.”

Masih dengan pertanyaan yang sama, menghafal Al-Quran, haruskah kita? Sebagai seorang muslim kita diperintahkan oleh Allah untuk membaca dan mengamalkan isi dari Al-Quran. Ketika zaman kenabian, ayat-ayat Allah yang turun ke Rasulullah belum ada yang dibukukan seperti sekarang. Al-Quran ditulis di tulang-tulang dan pelepah kurma secara terpisah. Mau tidak mau jika sahabat ingin mengamalkan semua apa yang di dalam Al-Quran, maka mereka harus menghafalnya. Dari sinilah kita bisa mengatakan bahwa dasarnya Al-Quran itu dihafal. Tidakkah kita mau meneladani Rasulullah dan para sahabat? Bagaimana kita akan dekat dan meneladani isi Al-Quran, apabila kita saja tidak tahu apa yang tertulis di dalam Al-Quran?

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra., dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda “Tiada iri yang dibenarkan kecuali dalam 2 hal : rasa iri terhadap orang yang diberi karunia pemahaman kandungan Al-Quran kemudian ia mengamalkannya siang malam, dan terhadap orang yang dikaruniai Allah harta yang kemudian ia infakkan siang malam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Saya takut sering lupa kalau hafal Al-Qur’an…”, pernah merasa seperti itu? Penulis juga pernah, hingga akhirnya penulis mendengar ceramah video seorang ustadz di youtube, “Kalau masalahnya takut lupa, itu… imam masjidil haram aja yang udah menghafal dari sejak umur 10 tahun juga ada lupanya, itu wajar, bagaimana kita yang baru mulai menghafal sekarang, semuanya ada proses, yang penting itu di prosesnya, tapi jangan pernah sengaja melupakan.”

Dari semua ini, penulis berusaha menjadikan Al-Quran sebagai pioritas utama, termasuk dengan menghafalnya, semoga kita semua dapat istiqomah dalam mempelajari dan menghafal Al-Quran. Allahummarhamna bil Qur’an.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s